Jumat, 30 Maret 2012
Kamis, 15 Maret 2012
Desain Jaringgan Secara Hierarki (Core, Distribution, Access Layer)
Desain jaringan secara Hierarki terdiri dari 3
layer
▫ Layer Core (backbone) yang menyediakan
tranportasi antar sites secara optimal
▫ Layer Distribution yang menyediakan koneksi
berdasar kebijakan perusahaan ( policy-based
connectii i vity))
▫ Layer Access (local) yang menyediak
workgroup/ workgroup/akses akses pengguna pengguna keke jaringan jaringan.
Core Layer
• high-speed switching backbone
• Didesain Didesain untuk untuk memproses memproses packet packet secepat secepat mungkin mungkin
• Dalam layer ini tidak dilakukan manipulasi packet,
seperti misalnya access list dan pemfilteran yang
akan men men nda unda pengiriman pengiriman packet packet .
• Titik kritis untuk menghubungkan piranti-piranti
layyer distribusi, sehingggga p g penting untuk menjjamin
stabilitas koneksi dan pembuatan jalur cadangan.
• Mengumpulkan traffic dari semua piranti layer
distribusi distribusi, sehingga sehingga harus harus memiliki memiliki daya daya tampung tampung
dan daya kirim yang besardan cepat.
Distribution Layer
• Titik demarkasi antara layer Core dan Layer Access.
• Tempat melakukan manipulasi packet dan pemfilteran
• DD l alam jj i aringan CC L ampus, Layer Di Di t ib i stribusi bi bisa bb f i erfungsi
untuk:
▫ Pengalamatan dan Daerah Pengumpulan
▫ Departemen Departemen//Fakultas Fakultas atau atau Workgroup access Workgroup access
▫ Pendefinisian Alamat domain broadcast/multicast
▫ Routing untuk antar Virtual LAN (VLAN)\
▫ Transisi jenis media jika diperlukan
▫ Keamanan ddata ddan jj i aringan (( i ) Security)
• Catatan:
Dalam Dalam ruang ruang lingkup lingkup kecil kecil, layer layer distribusi distribusi biasanya biasanya digabung digabung
jadi satu dengan layer Core.
Access Layer
• Titik bagi pengguna dihubungkan ke jaringan
• Bisa juga melakukan penyaringan untuk optimalisasi
kk b h ebutuhan pengguna secara khkhusus
• Dalam jaringan kampus, layer Access bisa berfungsi
untuk:
▫ PP b i embagian bb d idth andwidth
▫ Pemfilteran layer Data Link (MAC Address)
▫ Microsegmentasi
• Dalam jaringan non kampus, layer access bisa
menyediakan juga pengaksesan secara remote dengan
menggunakan menggunakan Frame Relay Frame Relay ISDN , ISDN, VPN VPN, atau atau Leased Leased lines.
CORE LAYER, DISTRIBUTION LAYER AND ACCESS LAYER
1. Core Layer
Pada layer ini bertanggung jawab untu mengirim traffic scara cepat dan andal. Tujuannya hanyalah men-switch traffic secepat mungkin (dipengaruhi oleh kecepatan dan latency). Kegagalan pada core layer dan desain fault toleranceuntuk level ini dapat dibuat sbb :
Yang tidak boleh dilakukan :
Pada layer ini bertanggung jawab untu mengirim traffic scara cepat dan andal. Tujuannya hanyalah men-switch traffic secepat mungkin (dipengaruhi oleh kecepatan dan latency). Kegagalan pada core layer dan desain fault toleranceuntuk level ini dapat dibuat sbb :
Yang tidak boleh dilakukan :
- tidak diperkenankan menggunakan access list, packet filtering, atau routing VLAN.
- tidak diperkenankan mendukung akses workgroup.
- tidak diperkenankan memperluas jaringan dengan kecepatan dan kapasitas yang lebih besar.
Yang boleh dilakukan :
- melakukan desain untuk keandalan yang tinggi ( FDDI, Fast Ethernet dengan link yang redundan atau ATM).
- melakukan desain untuk kecepatan dan latency rendah.
- menggunakan protocol routing dengan waktu konvergensi yang rendah.
Pada layer ini sering disebut juga workgroup layer, merupaan titik komunikasi antara access layer dan core layer. Fungsi utamanya adalah routing, filtering, akses WAN, dan menentukan akses core layer jika diperlukan. Menentukan path tercepat/terbaik dan mengirim request ke core layer. Core layer kemudian dengan cepat mengirim request tersebut ke service yang sesuai.
3. Access Layer
Pada layer ini menyediakan aksess jaringan untuk user/workgroup dan mengontrol akses dan end user local ke Internetwork. Sering di sebut jugadesktop layer. Resource yang paling dibutuhkan oleh user akan disediakan secara local. Kelanjutan penggunaan access list dan filter, tempat pembuatan collision domain yang terpisah (segmentasi). Teknologi seperti Ethernet switchingtampak pada layer ini serta menjadi tempat dilakukannya routing statis.
Kebetulan dalam jaringan Internal UAD sudah menerapkan desain tersebut diatas dengan detail spesifikasi teknis sbb:
- Core Layer di tangani mesin core.uad.ac.id BSD Minded dipadukan denganCisco Catalyst L3 (support multilayer) [118.97.x.x] dimana menangani jalur backbone utama ke ISP dan jalur Inherent
- Distribution Layer di tangani mesin router Mikrotik 3.23 level 6 menangani routing terpusat, jadi semua unit /lokasi tidak ada NAT kecuali untuk Lab, sehingga kita bisa terhubung ke semua device pada masing-masing unit /kampus.
- Access Layer ditangani mesin Mikrotik Router 3.23 level 6 dengan di bantumanagable switch besutan Nortel dengan spesifikasi Nortel 2550T menangani VLAN di masing-masing kampus.
Selasa, 06 Maret 2012
MATERI CIDR 2
IP address diperlukan dalam menghubungkan komputer satu ke komputer lain. ada tiga macam kategori pengalamatan IP yaitu Classfull Addressing (conventional), Subnetted Classfull, dan Classless Addressing (CIDR). Pada Classfull Addressing, pengalamatan berdasarkan kelas tanpa perlu ada subnetting. Suatu contoh, dalam sebuah jaringan lokal yang menggunakan alamat kelas B 172.16.0.0 terdapat 65.534 host
address. Karena dalam satu jaringan lokal tersebut terdapat terlalu banyak host maka sering terjadi kemacetan yang disebabkan oleh broadcast maupun benturan. Itulah kenapa diperlukan subnetting untuk mereduksi kemacetan yang ada. Subnetting adalah proses membagi sebuah jaringan menjadi beberapa sub-jaringan. Dimana keuntungan menggunakan subnetting adalah memudahkan pengelolaan jaringan dan membantu pengembangan jaringan ke jarak geografis yang lebih jauh. Subnetted Classfull adalah pengalamatan IP dengan subnetting. Pada metode ini, sebuah jaringan dibagi menjadi beberapa subjaringan atau subnet dengan kapasitas tiap subnet sama.
Jaringan komputer yang akan dibuat menggunakan tiga subnet. Dalam setiap subnet memerlukan kapasitas host yang berbeda. Untuk itulah digunakan metode VLSM dalam subnettingnya. Subnet pertama membutuhkan 25 host, subnet kedua membutuhkan 3 host, dan subnet ketiga membutuhkan 35 host. Menghitung jumlah host yang digunakan dengan konsep CIDR (Classless Inter-Domain Routing).
Berikut Subnet Mask berapa saja yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting.
address. Karena dalam satu jaringan lokal tersebut terdapat terlalu banyak host maka sering terjadi kemacetan yang disebabkan oleh broadcast maupun benturan. Itulah kenapa diperlukan subnetting untuk mereduksi kemacetan yang ada. Subnetting adalah proses membagi sebuah jaringan menjadi beberapa sub-jaringan. Dimana keuntungan menggunakan subnetting adalah memudahkan pengelolaan jaringan dan membantu pengembangan jaringan ke jarak geografis yang lebih jauh. Subnetted Classfull adalah pengalamatan IP dengan subnetting. Pada metode ini, sebuah jaringan dibagi menjadi beberapa subjaringan atau subnet dengan kapasitas tiap subnet sama.
Jaringan komputer yang akan dibuat menggunakan tiga subnet. Dalam setiap subnet memerlukan kapasitas host yang berbeda. Untuk itulah digunakan metode VLSM dalam subnettingnya. Subnet pertama membutuhkan 25 host, subnet kedua membutuhkan 3 host, dan subnet ketiga membutuhkan 35 host. Menghitung jumlah host yang digunakan dengan konsep CIDR (Classless Inter-Domain Routing).
Berikut Subnet Mask berapa saja yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting.
MATERI VLSM 1
Vlsm adalah pengembangan mekanisme subneting, dimana dalam vlsm dilakukan peningkatan dari kelemahan subneting klasik, yang mana dalam clasik subneting, subnet zeroes, dan subnet- ones tidak bisa digunakan. selain itu, dalam subnet classic, lokasi nomor IP tidak efisien.
Perhitungan IP Address menggunakanmetode VLSM adalah metode yang berbeda denganmemberikan suatu Network Address lebih dari satu subnet mask. Dalam penerapan IP Address menggunakanmetode VLSM agar tetap dapat berkomunikasi kedalam jaringan internet sebaiknya pengelolaan networknya dapat memenuhi persyaratan ;
1. Routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai notasi prefix untuk setiap rute broadcastnya (routing protocol :
RIP, IGRP, EIGRP, OSPF dan lainnya, bahan bacaan lanjut protocol routing : CNAP 1-2),
2. Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus mendukung metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus packet informasi.
RIP, IGRP, EIGRP, OSPF dan lainnya, bahan bacaan lanjut protocol routing : CNAP 1-2),
2. Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus mendukung metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus packet informasi.
VLSM chart
MATERI VLSM 2
Variable Length Subnet Mask (VLSM)
Misalkan kita memiliki empat buah network dengan jumlah host yang berbeda-beda untuk tiap
networknya. Net-A (14 host), Net-B (30 host), Net-C (20 host) dan Net-D (6 Host). Ip yang digunakan
adalah 192.168.100.xx . Bagaimana kita membuat subnet dengan menggunakan VLSM?
Langkah 1
Tentukan terlebih dahulu urutan network dengan jumlah host terbanyak dan subnet yang akan
digunakan.
Dalam kasus ini urutan network mulai dari host terbanyak adalah Net-B, Net-C, Net-A dan Net-D. Bila
dilihat jumlah host terbanyak yaitu pada Net-B, bandingkan dan pilihlah subnet yang memiliki selisih
paling sedikit atau sama antara host per subnet dengan host terbanyak.
CIDR Host per subnet Blok subnet
/26 62 64
/27 30 32
/28 14 16
/29 6 8
/30 2 4
Langlah 2
Buat blok-subnet dari subnet yang sudah dipilih
Subnet 192.168.100.0 192.168.100.32 192.168.100.64 192.168.100.96
Ip pertama 192.168.100.1 192.168.100.33 192.168.100.65 192.168.100.97
Ip terakhir 192.168.100.30 192.168.100.62 192.168.100.94 192.168.100.126
Broadcast 192.168.100.31 192.168.100.63 192.168.100.95 192.168.100.127
Bila kita menggunakan subnet secara langsung, maka kita membutuhkan 4 blok-subnet untuk
menghubungkan keempat network tersebut. Berbeda halnya bila kita menggunakan VLSM.
Langkah 3
Bila menggunakan VLSM maka kita perlu untuk menentukan subnet yang akan digunakan untuk masingmasing network.
CIDR Host per subnet Blok subnet Network
/26 62 64 -
/27 30 32 B dan C
/28 14 16 A
/29 6 8 D
/30 2 4 -
Langkah 4
Menentukan jumlah blok-subnet yang baru Berdasarkan blok-subnet pada langlah 2, kita memilih blok-subnet baru yang dapat menampung seluruh
host dalam network A, B, C dan D. Perlu diingat bahwa satu blok-subnet dapat menampung 30 host.
Net-B Net-C Net-A dan Net-D
Subnet 192.168.100.0 192.168.100.32 192.168.100.64
Ip pertama 192.168.100.1 192.168.100.33 192.168.100.65
Ip terakhir 192.168.100.30 192.168.100.62 192.168.100.94
Broadcast 192.168.100.31 192.168.100.63 192.168.100.95
Net-B menempati satu blok-subnet karena jumlah host = jumlah host per subnet (30=30).
Net-C menempati satu blok-subnet karena jumlah host mendekati jumlah host per subnet (20 > 30).
Net-A dan Net-D menempati satu blok-subnet karena jumlah host dari kedua network tersebut hasilnya
mendekati jumlah host per subnet (14 + 6 > 30).
Langkah 5
Menentukan subnet untuk VLSM
Blok-subnet untuk net-B dan net-C sudah tidak perlu lagi dipersoalkan tinggal bagaimana blok-subnet
untuk net-A dan net-D. Berdasarkan langkah 3 kita menggunakan /28 untuk net-A dan /29 untuk net-B.
Berikut blok-subnet yang digunakan oleh net-A.
Net-A
Subnet VLSM 192.168.100.64 192.168.100.80
Ip pertama 192.168.100.65 192.168.100.81
Ip terakhir 192.168.100.78 192.168.100.94
Broadcast 192.168.100.79 192.168.100.95
Perhatikan, lompatan blok-subnet untuk net-A langsung menggunakan 64 tidak menggunakan 0 , 16, 32,
48 karena sudah digunakan oleh net-B dan net-C. Jumlah host per subnet yang digunakan untuk net-A
pun sesuai dengan format subnet yang digunakan yaitu 14. Blok-subnet kedua dari /28 pada net-A
digunakan oleh net-B dengan format berbeda yaitu /29, dengan alasan yang sama maka lompatan bloksubnet untuk net-B langsung 80, sehingga blok-subnet yang baru untuk net-B yaitu :
Net-B
Subnet VLSM 192.168.100.80
Ip pertama 192.168.100.81
Ip terakhir 192.168.100.86
Broadcast 192.168.100.87
Secara lengkap subnet yang dapat digunakan adalah sebagai berikut :
Net-B 192.168.100.0 /27
Net-C 192.168.100.32 /27
Net-A 192.168.100.64 /28
Net-D 192.168.100.80 /29
Bukti bahwa perhitungan subnet sudah benar adalah Network ID pada masing-masing netwok berbeda
sehingga tidak terjadi overlapping.
Misalkan kita memiliki empat buah network dengan jumlah host yang berbeda-beda untuk tiap
networknya. Net-A (14 host), Net-B (30 host), Net-C (20 host) dan Net-D (6 Host). Ip yang digunakan
adalah 192.168.100.xx . Bagaimana kita membuat subnet dengan menggunakan VLSM?
Langkah 1
Tentukan terlebih dahulu urutan network dengan jumlah host terbanyak dan subnet yang akan
digunakan.
Dalam kasus ini urutan network mulai dari host terbanyak adalah Net-B, Net-C, Net-A dan Net-D. Bila
dilihat jumlah host terbanyak yaitu pada Net-B, bandingkan dan pilihlah subnet yang memiliki selisih
paling sedikit atau sama antara host per subnet dengan host terbanyak.
CIDR Host per subnet Blok subnet
/26 62 64
/27 30 32
/28 14 16
/29 6 8
/30 2 4
Langlah 2
Buat blok-subnet dari subnet yang sudah dipilih
Subnet 192.168.100.0 192.168.100.32 192.168.100.64 192.168.100.96
Ip pertama 192.168.100.1 192.168.100.33 192.168.100.65 192.168.100.97
Ip terakhir 192.168.100.30 192.168.100.62 192.168.100.94 192.168.100.126
Broadcast 192.168.100.31 192.168.100.63 192.168.100.95 192.168.100.127
Bila kita menggunakan subnet secara langsung, maka kita membutuhkan 4 blok-subnet untuk
menghubungkan keempat network tersebut. Berbeda halnya bila kita menggunakan VLSM.
Langkah 3
Bila menggunakan VLSM maka kita perlu untuk menentukan subnet yang akan digunakan untuk masingmasing network.
CIDR Host per subnet Blok subnet Network
/26 62 64 -
/27 30 32 B dan C
/28 14 16 A
/29 6 8 D
/30 2 4 -
Langkah 4
Menentukan jumlah blok-subnet yang baru Berdasarkan blok-subnet pada langlah 2, kita memilih blok-subnet baru yang dapat menampung seluruh
host dalam network A, B, C dan D. Perlu diingat bahwa satu blok-subnet dapat menampung 30 host.
Net-B Net-C Net-A dan Net-D
Subnet 192.168.100.0 192.168.100.32 192.168.100.64
Ip pertama 192.168.100.1 192.168.100.33 192.168.100.65
Ip terakhir 192.168.100.30 192.168.100.62 192.168.100.94
Broadcast 192.168.100.31 192.168.100.63 192.168.100.95
Net-B menempati satu blok-subnet karena jumlah host = jumlah host per subnet (30=30).
Net-C menempati satu blok-subnet karena jumlah host mendekati jumlah host per subnet (20 > 30).
Net-A dan Net-D menempati satu blok-subnet karena jumlah host dari kedua network tersebut hasilnya
mendekati jumlah host per subnet (14 + 6 > 30).
Langkah 5
Menentukan subnet untuk VLSM
Blok-subnet untuk net-B dan net-C sudah tidak perlu lagi dipersoalkan tinggal bagaimana blok-subnet
untuk net-A dan net-D. Berdasarkan langkah 3 kita menggunakan /28 untuk net-A dan /29 untuk net-B.
Berikut blok-subnet yang digunakan oleh net-A.
Net-A
Subnet VLSM 192.168.100.64 192.168.100.80
Ip pertama 192.168.100.65 192.168.100.81
Ip terakhir 192.168.100.78 192.168.100.94
Broadcast 192.168.100.79 192.168.100.95
Perhatikan, lompatan blok-subnet untuk net-A langsung menggunakan 64 tidak menggunakan 0 , 16, 32,
48 karena sudah digunakan oleh net-B dan net-C. Jumlah host per subnet yang digunakan untuk net-A
pun sesuai dengan format subnet yang digunakan yaitu 14. Blok-subnet kedua dari /28 pada net-A
digunakan oleh net-B dengan format berbeda yaitu /29, dengan alasan yang sama maka lompatan bloksubnet untuk net-B langsung 80, sehingga blok-subnet yang baru untuk net-B yaitu :
Net-B
Subnet VLSM 192.168.100.80
Ip pertama 192.168.100.81
Ip terakhir 192.168.100.86
Broadcast 192.168.100.87
Secara lengkap subnet yang dapat digunakan adalah sebagai berikut :
Net-B 192.168.100.0 /27
Net-C 192.168.100.32 /27
Net-A 192.168.100.64 /28
Net-D 192.168.100.80 /29
Bukti bahwa perhitungan subnet sudah benar adalah Network ID pada masing-masing netwok berbeda
sehingga tidak terjadi overlapping.
Senin, 05 Maret 2012
MATERI CIDR 1
Inilah postingan kedua yang baru aku entri...hehe
Karena ini adalah postingan untuk tugas mata kuliahku semester 4 dengan dosen baru yang ramah banget, namaNya Pak ARIEF ARFRIANDI.
Sebagai salah satu tugas mata kuliah "KEAMANAN JARINGAN KOMPUTER", Semoga dapat nilai yang memuaskan, AMIN ya Allah ^
CIDR
Classless Inter-Domain Routing (disingkat menjadi CIDR) adalah sebuah cara alternatif untuk mengklasifikasikan alamat-alamat IP berbeda dengan sistem klasifikasi ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E. Disebut juga sebagai supernetting. CIDR merupakan mekanisme routing yang lebih efisien dibandingkan dengan cara yang asli, yakni dengan membagi alamat IP jaringan ke dalam kelas-kelas A, B, dan C. Masalah yang terjadi pada sistem yang lama adalah bahwa sistem tersebut meninggalkan banyak sekali alamat IP yang tidak digunakan. Sebagai contoh, alamat IP kelas A secara teoritis mendukung hingga 16 juta host komputer yang dapat terhubung, sebuah jumlah yang sangat besar. Dalam kenyataannya, para pengguna alamat IP kelas A ini jarang yang memiliki jumlah host sebanyak itu, sehingga menyisakan banyak sekali ruangan kosong di dalam ruang alamat IP yang telah disediakan. CIDR dikembangkan sebagai sebuah cara untuk menggunakan alamat-alamat IP yang tidak terpakai tersebut untuk digunakan di mana saja. Dengan cara yang sama, kelas C yang secara teoritis hanya mendukung 254 alamat tiap jaringan, dapat menggunakan hingga 32766 alamat IP, yang seharusnya hanya tersedia untuk alamat IP kelas B.
CIDR
Classless Inter-Domain Routing (disingkat menjadi CIDR) adalah sebuah cara alternatif untuk mengklasifikasikan alamat-alamat IP berbeda dengan sistem klasifikasi ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E. Disebut juga sebagai supernetting. CIDR merupakan mekanisme routing yang lebih efisien dibandingkan dengan cara yang asli, yakni dengan membagi alamat IP jaringan ke dalam kelas-kelas A, B, dan C. Masalah yang terjadi pada sistem yang lama adalah bahwa sistem tersebut meninggalkan banyak sekali alamat IP yang tidak digunakan. Sebagai contoh, alamat IP kelas A secara teoritis mendukung hingga 16 juta host komputer yang dapat terhubung, sebuah jumlah yang sangat besar. Dalam kenyataannya, para pengguna alamat IP kelas A ini jarang yang memiliki jumlah host sebanyak itu, sehingga menyisakan banyak sekali ruangan kosong di dalam ruang alamat IP yang telah disediakan. CIDR dikembangkan sebagai sebuah cara untuk menggunakan alamat-alamat IP yang tidak terpakai tersebut untuk digunakan di mana saja. Dengan cara yang sama, kelas C yang secara teoritis hanya mendukung 254 alamat tiap jaringan, dapat menggunakan hingga 32766 alamat IP, yang seharusnya hanya tersedia untuk alamat IP kelas B.
Perhitungan Subnetting Menggunakan Konsep CIDR
Kali ini saatnya anda mempelajari teknik penghitungan subnetting. Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat. Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.
Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, apa ini artinya? Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.
Indonesia (SEMARANG)
Semarang, Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)
